Breaking News

Berbekal Jas Hujan, Senter dan Pisau, Kader PKS Papua Dilepas di Hutan Belantara



Langkah-langkah kaki itu menapak dengan mantap saat dilepas menuju hutan belantara di lokasi Kemah Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Papua di hutan Holtekam, Jayapura. Selama kurang lebih 24 jam mereka akan dilatih untuk bertahan hidup (survive), meski hanya diperkenankan membawa jas hujan, senter, pisau/parang, korek api, dan pakaian yang menempel di badan. Tak ada setetes air minum pun yang boleh dibawa, tak juga sebungkus makanan, para kader pria PKS itu harus mencari makan di tengah hutan dengan memanfaatkan alat-alat yang dimiliki. Bukan hanya itu, mereka juga harus mampu bertahan menghadapi cuaca panas dan hujan.

Itulah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh kader-kader pria PKS Papua dalam program Kemah Kader yang digelar di Holtekam Jayapura, selama tiga hari, Jumat (2/1/2015) hingga Ahad (4/1/2014). Di mana, kegiatan pelatihan bertahan hidup (survival) yang dilakukan sejak pukul 10.00 di hari kedua kemah kader bisa dikatakan merupakan kegiatan puncaknya.

Di sela-sela kegiatan, Ketua DPW PKS Papua, Ichwanul Muslimin menyatakan  bahwa kemah kader ini merupakan sarana pelatihan kader untuk mampu menyeimbangkan potensi diri yang dimiliki, baik berupa akal, spiritual, maupun fisik.

Ketua DPW PKS Papua, Ichwanul Muslimin saat membuka Kemah Kader PKS, Jumat (2/1/2015)
“Melalui kegaiatan ini, para kader PKS dilatih untuk menyeimbangkan tiga aspek potensi diri. Dari aspek akal, para kader dibekali dengan berbagai ilmu yang bermanfaat. Secara ruhiyah spiritual diminta untuk melakukan berbagai ibadah, baik wajib maupun sunnah. Terutama dalam aspek fisik, digembleng dengan berbagai latihan agar kuat memikul berbagai tugas yang diberikan,” ungkap Ichwanul.

Ichwanul juga menyebutkan bahwa kegiatan yang telah menjadi agenda rutin tahunan itu merupakan sarana untuk menggembleng kader PKS agar tidak mudah mengeluh dengan berbagai hambatan yang dihadapi dalam menjalankan tugas.

“Para peserta dilatihkan untuk memiliki daya tahan untuk menghadapi berbagai hambatan dalam menunaikan tugas. Sekali mereka kalah menghadapinya, akan semakin sulit menaklukkan hambatan berikutnya yang muncul. Tetapi ketika para kader mampu mengatasinya, akan terus bisa melaju menunaikan berbagai tugas yang dibebankan kepada mereka,” katanya.

Di area pelatihan survival, para peserta dilatih untuk bisa bertahan hidup dengan memanfaatkan makanan yang tersedia di hutan. Para peserta mulai menerapkan materi survival yang diberikan sehari sebelumnya dalam kondisi nyata. Mereka mulai mendeteksi makanan mana saja yang tidak beracun dan makanan mana saja yang bisa dikonsumsi. Di antara mereka ada yang menemukan tunas kecil pohon pepaya. Mereka pun mulai meremas-remas daun pepaya untuk menghancurkannya dan lantas membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil. bulatan kecil daun pepaya itu pun langsung ditelan tanpa dikunyah, hal ini adalah untuk menghindari muntah saat lidah mengecap pahitnya. 

Sebagian peserta merasa sangat bersyukur ketika berjumpa dengan setandan pisang mentah. Berbekal korek api, pisang mentah itu mereka bakar untuk menghilangkan getahnya. Pisang muda bakar itu pun mereka akui sebagai makanan terlezat yang mereka miliki saat itu. Ada yang lebih beruntung menemukan pohon kelapa, buah dan air kelapa segar itu pun bisa menjadi pengganjal perut selama 24 jam masa kegiatan survival. Namun ada pula yang terpaksa meminum air yang menggenang di tanah. Setelah disaring dengan baju kaosnya, air itu pun berpindah ke tenggorokan. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Tentu mereka lebih mementingkan persoalan menyambung hidup ketimbang masalah cita rasa lidah.

Ujian bertahan hidup itu makin terasa berat ketika hampir tengah malam Sabtu (3/1/2015) itu hujan deras mengguyur. Jas-jas hujan yang mereka susun menjadi semacam tenda kecil (bivak) tak mampu lagi menahan curahan air dari langit yang sesekali ditimpali petir. Mereka pun hanya mampu duduk meringkuk dengan sekujur tubuh basah oleh air. Tak ada lagi peserta yang dapat menikmati tidur pulas dalam kondisi seperti ini. Bahkan, sejumlah kelompok harus bertaruh nyawa ketika pohon lapuk di sekitarnya tiba-tiba tumbang. Untung saja jalinan antar pohon dan sulur-sulur tanaman bisa menghambat laju pohon itu mencapai tanah, sehingga ada kesempatan untuk menghindarkan diri dari maut. Hujan yang baru berhenti saat lepas subuh itu dirasakan sebagai ujian terberat yang dihadapi peserta belum lagi dingin udara malam menjadikan sejumlah peserta pun menggigil.  Dalam kondisi demikian bukan hal mudah untuk menyalakan perapian penghangat tubuh, karena semuanya telah basah oleh air.

Tentu kondisi ujian bertahan hidup yang demikian berat hanya akan menjadikan mereka yang bermental lembek untuk memilih mundur ke belakang. Namun, nyatanya hingga 24 jam watu survival itu berlangsung tak ada satu pun peserta yang surut ke belakang.  (abuhani)

Tidak ada komentar