Merawat Afek Kebersamaan: Media Digital, Hidup Berdampingan, dan Masa Depan Papua yang penuh Kasih
Membaca buku Affective Publics: Sentiment, Technology, and Politics karya Zizi Papacharissi mengingatkan kita pada satu kenyataan penting: masyarakat tidak hanya dibentuk oleh hukum dan kebijakan, tetapi oleh perasaan yang hidup dan beredar di antara mereka. Undang-undang dapat mengatur kewenangan, namun afek—rasa saling percaya, aman, dan dihargai—menentukan apakah sebuah masyarakat benar-benar mampu hidup berdampingan secara damai.
Dalam konteks Papua, pemahaman ini menjadi sangat krusial. Secara normatif dan konstitusional, Indonesia telah memiliki kerangka yang jelas melalui Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. Artinya, persoalan Papua hari ini tidak lagi semata-mata soal ketiadaan regulasi atau pengakuan formal. Tantangan terbesarnya justru berada pada ranah yang lebih halus namun menentukan: relasi sosial antar manusia, antar golongan, dan terutama hubungan yang setara dan bermartabat dengan masyarakat adat Papua sebagai pemilik tanah dan budaya.
Di sinilah gagasan Papacharissi tentang affective publics menawarkan lensa yang berbeda. Media sosial dan ruang digital bukan sekadar alat kampanye atau arena debat politik, melainkan ruang di mana perasaan kolektif dibentuk, dirawat, atau justru dirusak. Afek publik dapat menjadi jembatan untuk saling memahami, tetapi juga bisa menjadi bahan bakar kecurigaan dan kekerasan jika dibiarkan tanpa arah.
Selama ini, kepedulian personal terhadap Papua sesungguhnya telah lama hidup dan bertahan. Ia hadir dalam bentuk relasi antarindividu: guru yang mengabdi, relawan kesehatan, komunitas lintas agama, sahabat antar suku, hingga solidaritas senyap yang tidak selalu viral. Kepedulian ini bukan proyek negara, bukan pula tren media sosial sesaat. Ia adalah afek keseharian—rasa kemanusiaan yang tumbuh dari perjumpaan langsung dan saling menghormati, alami, tanpa rekayasa.
Masalah muncul ketika afek-afek yang rapuh ini bertabrakan dengan arus emosi digital yang kasar: narasi saling meniadakan, stigmatisasi, dan pembingkaian konflik yang reduktif. Dalam istilah Papacharissi, inilah saat ketika affective feedback loops bekerja secara destruktif—emosi negatif direproduksi terus-menerus, menciptakan jarak psikologis, bahkan membenarkan kekerasan simbolik maupun fisik.
Padahal, media digital juga menyimpan potensi sebaliknya. Ia bisa menjadi ruang untuk mereproduksi afek kebersamaan, bukan dengan romantisasi atau propaganda, melainkan melalui narasi yang manusiawi dan setara. Kisah hidup berdampingan antar suku, praktik saling bantu di tingkat kampung, penghormatan terhadap adat, dan dialog lintas identitas—semua ini adalah bentuk politics of coexistence yang sering luput dari sorotan, namun justru menjadi fondasi perdamaian yang sesungguhnya.
Papacharissi mengingatkan bahwa afek bersifat liminal: ia tidak pernah final. Karena itu, tugas kita bukan “menciptakan” kasih baru terhadap Papua, melainkan menjaga dan merawat afek kasih yang sudah ada agar tidak rusak oleh kekerasan, prasangka, dan bahasa kebencian. Dalam konteks ini, rekayasa sosial bukan berarti memaksakan kesadaran, melainkan mengatur ekosistem emosi publik agar kondusif bagi hidup bersama.
Tidak boleh ada kekerasan lagi di Papua—bukan sebagai slogan moral, tetapi sebagai kesepakatan afektif kolektif. Kekerasan selalu lahir ketika rasa saling percaya runtuh. Dan kepercayaan hanya bisa tumbuh jika ruang publik—termasuk ruang digital—dipenuhi oleh afek penghormatan, bukan kecurigaan; empati, bukan ketakutan.
Affective Publics mengajarkan bahwa masa depan politik—termasuk politik perdamaian—tidak ditentukan semata oleh keputusan elit, tetapi oleh suasana perasaan yang kita bangun bersama setiap hari. Jika media sosial terus menjadi ruang yang memanusiakan, mengakui martabat orang Papua sebagai subjek penuh, dan merayakan hidup berdampingan, maka Otonomi Khusus tidak hanya berhenti sebagai teks hukum, tetapi menjelma sebagai pengalaman sosial yang nyata.
Pada akhirnya, Papua tidak membutuhkan lebih banyak suara yang berbicara tentang mereka, tetapi lebih banyak ruang yang memungkinkan semua pihak merasakan satu sama lain sebagai sesama manusia. Dan di situlah peran paling penting media digital hari ini: bukan mengobarkan emosi, melainkan merawat afek Kasih di akhir tahun 2025 ini.
Penulis : M.Firdaus A., M.Si. (Sek. Komdigi PKS Papua & Praktisi Bidang Artificial Intelligence)