RESTORASI ALAM SENTANI
Sentani-kabupaten Jayapura adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang terkenal dengan cagar alam pegunungan Cycloop dan Danau Sentaninya. Cagar Alam pegunungan Cycloop termasuk cagar alam terbesar di Indonesia. Kawasan hutannya memiliki luas 31.479,9 hektar. Sedangkan luas danaunya memiliki luas sekitar 245.000 hektar.
Beberapa waktu yang lalu kita semua digemparkan dengan musibah banjir bandang yang berdampak kerusakan besar. Catatan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) korban meninggal akibat banjir bandang yang terjadi 16-17 maret 2019 lalu mencapai 104 orang, luka-luka sebanyak 160 orang, dan sejumlah 79 lebih orang dinyatakan hilang.
Banjir bandang yang terjadi di sentani-kabupaten Jayapura mengakibatkan tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga telah merusak tatanan struktur alam sungai pegunungan cycloop yang mengalir ke danau Sentani. Banyak pihak mengamini bahwa Penyebab banjir adalah akibat rusaknya cagar alam pegunungan cyloop oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab yang menyebabkan hilangnya fungsi resapan air. Ditambah lagi kondisi alam morphology pada 9 kecamatan yang terdampak banjir di bawah kaki pegunungan Cycloop yang berpotensi besar sebagai daerah rawan banjir.
Hal ini bukan kali pertama banjir bandang terjadi di sentani, namun yang ke-empat sejak tahun 2003, namun kali ini yang terbesar dampak kerusakannya. Maka sudah semestinya, masyarakat, pemerintah, dan semua stakeholder yang ada wajib seriusi keadaan daerahnya dengan memahami secara utuh dan terpadu fungsi dari pegunungan Cycloop, hutannya, serta danau Sentani-nya.
Pegunungan Cycloop merupakan kawasan cagar alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Seluruh ekosistem merupakan ekosistem alami, baik flora maupun faunanya.
Letak pegunungan Cycloop yang bersebelahan dengan samudra pasifik menyebabkan sering terjadi curah hujan yang tinggi. Sumbangsih awan hujan yang banyak terbentuk dari laut, turun ke gunung berupa air hujan, yang sebagiannya teraliri ke hilir dan menjadi salah satu sumber utama keberadaan air di danau Sentani. Sehingga ini hal mendasar yang penting untuk diketahui bahwa, sesungguhnya alam saling berkaitan satu dengan lainnya, dan saling bergantung.
Pegunungan Cyloop menjadi penopang eksistensi danau terluas di papua ini, dan menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari fungsi penyangga pada kehidupan masyarakat di wilayah sentani. Jika terjadi keadaan diluar kondisi alami pada kedua cagar alam tersebut, bisa dipastikan ada yang harus diperbaiki dari sirkulasi ekosistem yang telah terbentuk ribuan tahun lalu tersebut.
Setidaknya ada beberapa catatan dari BNPB tentang penyebab dari terjadinya bencana banjir Bandang ini, yang harus dicarikan solusi terbaik paska fokus dengan penanganan korban musibah banjir tersebut. Diantaranya adalah pertama, hujan yang terjadi sebelum banjir sangat lebat sebesar 235,1 milimeter per jam selama 7 jam, yang pada keadaan normal, biasanya kapasitas hujan seperti ini terjadi untuk satu bulan. Kedua, longsoran yang menutup aliran sungai dari hulu ke hilir, sehingga membentuk bendungan-bendungan, yang lama-kelamaan jebol akibat derasnya debit air hujan.
Jadi diprediksi ada dua faktor utama, yakni faktor alam dan faktor ulah manusia. Faktor alam dari hujan deras yang lama, jenis bebatuan yang mudah longsor dan topografi curam pada sisi hulu dan landai pada sisi hilirnya (tempat pemukiman). Sedangkan faktor ulah manusia dalam bentuk Perambahan hutan di sana yang telah berlangsung sejak 2003, penggunaan lahan pemukiman dan lahan kering seluas 2415 Hektar, serta masih berlangsungnya penebangan pohon untuk pembukaan lahan, dan perumahan maupun kebutuhan kayu, juga penambangan galian C. Semua fakta tindakan diatas tentu membuka besar peluang penyebab musibah ini terjadi.
Alam selalu membentuk keadaan seimbangnya. Ulah manusialah yang sering membuatnya tidak seimbang, maka yang perlu diperbaiki adalah semua faktor penyebab ketidakseimbangan alam yang diakibatkan oleh tangan manusia, sembari turut menjadi penjaga keseimbangan alam tersebut. Ini adalah perwujudan rasa syukur atas berkah dan kehidupan yang diberikan Tuhan melalui alam pada manusia.
Penataan Alam Sentani harus segera dilakukan, agar kejadian yang sama tidak lagi terulang dimasa yang akan datang. Besyukur Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura sebenarnya telah memulai dengan membuat regulasi perlindungan dan pengelolaan kawasan penyangga cagar alam pegunungan Cycloop, melalui Peraturan daerah kabupaten jayapura nomor 9 tahun 2015.
Dalam implementasinya, Perda ini telah sepenuhnya sangat bergantung dari ketegasan sikap dan kejelasan perencanaan dari kepemimpinan pemerintah daerah setempat, dan tentunya juga oleh semua stakeholder yang ada di kabupaten jayapura. Maka dibutuhkan keseriusan dari berbagai pihak untuk melaksanakan aturan dan kebijakan yang telah tertuang pada Perda tersebut sejak 4 tahun lalu.
Alam wajib difahami, tidak boleh disalahkan. Manusia (masyarakat sentani) kehidupannya berdampingan dengan alam. Maka dengan menjaga dan memelihara alamnya adalah sama halnya menjaga dan memelihara manusia, ini mindset yang harus dibangun, sehingga melalui pendekatan ini, interaksi manusia pada alam tidak boleh terlepas dari kaitannya dengan kesejahteraan sosial masyarakat setempat, dan peningkatan ekonomi daerah serta kualitas lingkungan hidup alamnya.
Berbicara tentang danau sentani sebagai bagian dari hilir aliran sungai pegunungan Cycloop, maka, tidak akan terlepas kaitannya dengan kekayaan Flora dan faunanya, Perikanan, Pertanian, sosial ekonomi, Pendidikan, wisata, banjir, kekeringan, bahkan Energi Terbarukan, juga air minum dari aliran sungai pegunungan Cycloop.
Maka, sepatutnya Danau Sentani dijaga kondisi Hydrology nya, kualitas dan kuantitas airnya, yang berkaitan erat dengan keadaan pegunungan Cycloop. Banjir yang terjadi akibat kenaikan air danau sentani paska musibah banjir bandang dari pegunungan Cycloop lalu adalah bukti hubungan yang erat Antara keduanya.
Selain itu, Ecology nya juga dijaga, kualitas dan kuantitas flora dan fauna di pegunungan Cycloop dan danau Sentani tetap dilestarikan terutama yang dilindungi sebagai modal objek wisata, juga flora dan fauna yang berpotensi untuk diolah menjadi sumber pangan.
Keadaan alami morphology wilayah sentani, mulai dari hulu sungai pegunungan cycloop hingga bagian hilirnya tidak boleh diubah-ubah dengan menghilangkan tumbuh-tumbuhannya sebagai fungsi penyangga bibir sungai, juga sebagai peredam (penghambat) kecepatan aliran, serta berfungsi sebagai resapan air ke tanah.
Bahkan lekukan-lekukan aliran anak-anak air sungai pegunungan Cycloop harus tetap dijaga. Karena belokan-belokan aliran sungai ini berfungsi juga sebagai proses peresapan air, agar merata ter-infiltrasi kedalam tanah, hingga mengurangi terjadinya erosi, dan meningkatkan flora dan fauna supaya bertumbuh di sekitarnya.
Dan tidak kalah pentingnya setelah ketiga hal diatas dijaga adalah, fungsi sosial, ekonomi dan budaya dari karunia alam ini kita tingkatkan. Kehidupan sosial masyarakat sekitar harus semakin baik bersama alam, ekonomi harus meningkat dengan pemberdayaan alam, kultur budaya mesti terlestarikan bersama alam sebagaimana contoh yang sudah dilakukan oleh pemerintah daerah dalam bentuk festival danau Sentani maupun festival pegunungan Cycloop. Yang belum dilakukan mari laksanakan, yang sudah dilakukan mari dirawat.
Untuk merealisasikan semua ini, mutlak regulasi Perda Kab Jayapura No. 9 tahun 2015 harus dilaksanakan, terutama sebagai fungsi perlindungan dan penjagaan alam pegunungan Cycloop dari perilaku manusia yang cenderung merusak jika tidak memahami fungsi alamnya.
Pada pasal 7 ayat 3 dari Perda tersebut telah mengakomodir peran masyarakat sebagai salah satu agen pengendalian dan pemeliharaan wilayah penyangga pegunungan Cycloop. Hal ini sudah sangat tepat, karena masyarakat sekitar juga turut memanfaatkannya, dan jika tidak terjaga, masyarakat pula yang akan menerima akibatnya lewat musibah seperti banjir bandang.
Salah satu peran perlindungan masyarakat adalah memantau tanda dan gejala banjir bandang sekaligus upaya pencegahannya. Banjir bandang memiliki ciri-ciri utama Antara lain, pertama, bila pada anak-anak sungainya terdapat tanaman-tanaman pohon yang lapuk. kedua, air anak sungai keruh sekali serta ada tanda-tanda tebing dan tanah di bagian hulu akan longsor. ketiga, lekukan anak-anak sungai dibagian hulu bertipe mangkuk, dimana bila terjadi hujan lebat yang merata, airnya memungkinkan untuk meluap dan menjadi aliran sungai utama yang besar.
Masyarakat sekitar sebagai salah satu agen pada Perda tersebut, bisa turut membantu dalam mengamati dan mencegah maupun melaporkan pada pos-pos penjagaan yang seharusnya dibuat oleh pemerintah daerah di wilayah tersebut. Penahan-penahan buatan bisa dibuat untuk mencegah terjadinya longsor pada tebing atau tanah yang telah nampak tanda-tanda akan longsor. Atau sekalian saja dilongsorkan sebelum longsor akibat hujan lebat, jika tanda-tanda akan longsor sudah jelas terlihat.
Dahan-dahan pohon yang berada di pinggiran aliran sungai, bila telah menghambat aliran airnya, maka harus dirapikan. Pos-pos penjagaan selain masyarakat juga berfungsi untuk menindaklanjuti segala kegiatan yang merusak seperti penebangan pohon-pohon disekitar wilayah tersebut.
Mari bersama jaga alam sentani, yakinlah alam akan menjaga kita, Tuhan pun akan turut menjaga. Air, Gunung, dan hutan kita syukuri dan lestarikan, masyarakat sekitar mari kita berdayakan. Mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi, dan bergandeng tangan bersama untuk merencanakan sinergi bersama alam, itu lebih baik dari pada sekedar saling menyalahkan satu sama lainnya.
Oleh : M. Firdaus Abduh, M.Si.